Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Y.M. David Taylor, dalam bincang media di Universitas Atmajaya pada 22 Agustus lalu mengatakan, secara geografis, Indonesia dekat dengan Selandia Baru. Dalam beberapa tahun terjalin kerja sama dari sisi edukasi. "Masyarakat mungkin diingatkan kembali bahwa hubungan edukasi Indonesia dan Selandia Baru ini terjalin sejak 60 tahun lalu," kata David.
Kedekatan ini diawali dengan adanya Colombo Plan pada 1950. Ini merupakan organisasi regional yang melakukan upaya kolektif antarpemerintah untuk memperkuat pembangunan ekonomi dan sosial dari 25 negara anggota di wilayah Asia-Pasifik, termasuk Indonesia dan Selandia Baru. Fokus utamanya pengembangan sumber daya manusia.
"Banyak mahasiswa Indonesia mengunjungi Selandia Baru lewat Colombo Plan. Sejak 60 tahun hingga kini, hubungan Selandia Baru dan Indonesia makin erat," kata David. Hingga tahun lalu, ada 800 mahasiswa Indonesia pergi ke Selandia Baru untuk menjalani pendidikan.
Lebih jauh, ia mengatakan, pengalaman belajar di Selandia Baru adalah rahasia yang tersimpan rapi oleh kelompok kecil alumni Selandia Baru dari Indonesia.
Meski bulan ini institusi-institusi Selandia Baru kembali ke Indonesia untuk membagikan informasi tentang program-program unggulan mereka kepada lebih banyak pelajar dan orang tua mereka. David menuturkan bahwa pemerintahnya memberikan peluang yang cukup besar bagi pelajar Indonesia yang ingin menimba ilmu di Selandia Baru.
David menyebutkan, ada beragam beasiswa yang ditawarkan bagi masyarakat Indonesia. Terutama untuk program dosen dan calon dosen. Mereka bekerja sama dengan Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Dalam setahun, ada sekitar 1.000 dosen yang belajar ke Selandia Baru.
Bagi mahasiswa yang mau mengambil program doktoral di Selandia baru, biayanya sekitar US$ 5.000 atau Rp 45 juta per tahun. Kelebihannya, mahasiswa tersebut boleh membawa keluarganya. Pasangannya boleh bekerja fulltime dan anak-anaknya bisa sekolah di institusi pendidikan lokal Selandia Baru serta mendapatkan biaya kesehatan gratis," ujarnya.
Izak Human, Regional Director Education Selandia Baru untuk kawasan Asia Tenggara, mengatakan pemerintahnya memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengembangkan kepribadian dan pengalaman profesional mereka.
"Kami menawarkan jajaran yang luas untuk program studi dengan kualitas tinggi di institusi-institusi berkelas dunia. Berbagai program yang tersedia berjajar dari pendidikan akademik, teknik, dan profesional. Mulai dari program foundation untuk bahasa Inggris sampai program diploma, sarjana, dan pascasarjana," katanya.
Akan ada perwakilan dari 24 institusi perguruan tinggi dari Selanda Baru, tujuh dari delapan universitas Selandia Baru akan ikut dalam acara pameran ini, delapan institusi teknologi dan politeknik, dan sembilan institusi pendidikan yang lain. Pameran ini adalah yang ketiga kalinya dalam jangka 18 bulan delegasi institusi dari Selandia Baru datang ke Indonesia.
Salah satu lulusan Selandia Baru dari Indonesia, Pipiet Larasatie, berbagi pengalaman belajar selama studi program master ilmu kehutanan di University of Canterbury di Kota Christchurch, di Pulau Selatan. "Lingkungan sangat ramah, penduduknya ringan tangan menolong para imigran dan sangat welcome," kata Pipit, yang mendapatkan beasiswa lewat New Zealand ASEAN Scholarship ini.
Kenapa memilih Selandia Baru sebagai tujuan untuk melanjutkan studi di luar negeri? Sebab, Selandia Baru menawarkan kelebihan. Antara lain kursus dan institusi kelas dunia, kurikulum yang sesuai bakat dan minat, lingkungan belajar yang mendorong daya pemecahan masalah dan inovasi, fasilitas kelas dunia dan kesempatan pembelajaran multi-media, sistem homestay berkualitas tinggi, dan dianggap negeri damai dengan angka korupsi paling rendah di dunia.
HIDUP MAHASISWA!!
Pendidikan kita hari ini sedang dalam keadaan
mengenaskan, berbagai kebijakan yang diambil pemerintah selalu saja
tidak berjalan sesuai harapan, dimulai dari kekacauan UN tentang
keterlambatan pendistribuasian soal, kebocoran kebocoran jawaban yang
hingga kini bukanlah menjadi rahasia pribadi lagi. Evaluasi mengenai UN
seharusnya menjadi prioritas yang diutamakan, jika memang UN masih
menjadi tolak ukur untuk pendidikan siswa selama bersekolah.
Ketidakmerataan pendistribusian soal di daerah terpencil, merupakan
suatu bukti bahwa pemerintah tidak pernah serus dalam menyikapi
permasalahan permasalahan pendidikan di Indonesia, padahal pendidikan
merupakan kebutuhan utama rakyat setelah makan!!
68 Tahun pendidikan Indonesia bukanlah umur
yang terbilang muda untuk terus menerus berada dalam situasi yang
memprihatinkan seperti ini, Indonesia selalu menaruh harapan besar akan
peran bidang pendidikan. Melalui pendidikan, diharapkan muncul
generasi-generasi penerus bangsa yang unggul. Sehingga nantinya, mereka
lah yang akan membawa negeri ini menuju kehidupan yang lebih baik.
Sekilas nampaknya tujuan di atas sederhana, tetapi sesungguhnya
sangatlah kompleks, apalagi jika berkaitan dengan masalah-masalah yang
seringkali muncul dalam penerapannya sendiri. Dia antaranya adalah,
polemik yang menyertai pelaksanaan UN, masih belum meratanya jumlah
guru, fasilitas, dan kualitas pendidikan terutama di daerah terpencil,
biaya pendidikan yang semakin mahal,
Pada tahun 2010 saja Indonesia hanya
menduduki peringkat 108 dari 169 negara dalam Human Development Index
(Setyaningrum, Didaktik 2011:37).
Selain UN perlu dikaji tentang pengesahan UU-PT, pengesahan UU-PT menjadi permasalahan tersendiri, dikhawatirkan nantinya Perguruan tinggi tidak hanya berfokus mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga mencari uang untuk memenuhi kebutuhan biaya operasionalnya!
belum lagi masalah Kurikulum yang terus menerus mengalami bergantin tanpa memikirkan pendidikan itu sendiri, Belum genap 10 tahun Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK/2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP/2006) diterapkan, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum 2013. Sejak 29 November 2012 lalu Kemendikbud telah mengumumkan draft resmi Kurikulum 2013.
pengrusakan idealisme kurikulum di Indonesia disebabkan antara lain
tidak adanya riset yang dilakukan terebih dahulu, terhadap kurikulum
sebelumnya serta tidak adanya persiapan yang memadai untuk mengganti
kurkulum dalam waktu yang sangat mendadak
Politisasi pendidikan untuk kepentingan
pribadi maupun golongan bukanlah lagi menjadi sekedar isu atau wacana
yang bisa kita tanggapi dengan anggukan dan diam saja. Pendidkan hari
ini bukanlah lagi sesuatu yang bisa kita andalkan keberadaannya untuk
kemajuan bangsa ketika memang pendidikan itu sendiri menjadi alat untuk
kepentingan perseorangan.
kenyataan menyedihkan pendidikan hari ini
seharusnya menjadi evaluasi dalam peningkatan kinerja dan mutu yang
memang seharusnya dilakukan! pembentukan struktur perilaku dan pemikiran seseorang meruppakan kunci untuk mengatasi kebobrokan pendidikan Indonesia di
atas segalanya, pemimpin bertindak sebagai pelaku, dan mereka melakukan
satu hal yang dapat mereka melakukan dengan sempurna, yaitu membuat
perbaikan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar